Dengan meluasnya daerah yang dikuasai oleh pasukan arung palakka dan pakila' allo,sehingga mereka terus melakukan perjudian yang mengakibatkan kekacauan,pencurian dan penekanan terhadap bangsawan yang tidak setuju dengan adanya perjudian tersebut.
Hal ini berlansung selama beberapa tahun sehingga menimbulkan keinginan masyarakat toraja untuk melawan pasukan arung palakka,yang dimulai dengan menaklukkan kekuatan pakila' allo.ide perlawanan ini berasal dari seorang bangsawan yang bernama pong kalua' yang bertempat tinggal di randan batu.dalam susunan rencananya,pong kalua' dengan sengaja menikah dengan adik pakila' allo agar dengan mudah dia dapat mengikuti jejak pakila' allo.,sementara itu pong kalua' membuat persekutuan yang bertujuan untuk membunuh pakila' allo,Hingga suatu waktu mereka mencoba membunuhya tetapi hanya mengakibatkan luka ringan pada sekujur tubuh pakila' allo,Kemudian mereka mencoba kembali dengan cara menaruh racun(ipo) di atas luka pakila' allo,dan benar ternyata rencana mereka membunuh pakila' allo berhasil dengan cara mengunakan racun.
Setelah pakila' allo meninggal,para bangsawan kembali menyusun kekuatan untuk melawan pasukan arung palakka.Setelah mereka berhasil menyusun kekuatan dan membuat persekutuan yang dinamai dengan "TOPADATINDO dan TOMISA PANGIMPI" yang berarti persekutuan yang seia,sekata dan satu cita-cita,dengan semboyan MISA' KADA DIPOTUO,PANTAN KADA DIPOMATE(bersatu kita teguh bercerai kita runtuh) dan perlawan ini disebut "UNTULAK BUNTUNNA BONE,ULLANGDA TO SENDANA BONGA(menentang pengaruh dan kekuasaan bone) persekutuan ini dipelopori oleh 3 orang yaitu -Sia Ambe' Pong Kalua' dari randan batu,-Sia Ambe' Pong Songgo dari limbu,sarira -Tominaa Ne' Sanda Kada dari limbu sarira sebagai juru bicara.
Berkat dukungan dan persatuan dari para bangsawan toraja,maka mereka berhasil menaklukkan pasukan arung palakka(1680),setelah melakukan perlawanan beberapa lama sampai di daerah bamba puang(perbatasan toraja).
Setelah mereka berhasil kemudian para pemimpin dan anggota topadatindo mengikrarkan sebuah janji dan sumpah yang disebut dengan"BASSE KASALLE".saat mereka selesai mengikrarkan janji dan sumpah,kemudian mereka meberi nama kekacauan tersebut dengan nama "MANDA'MI SALLI'NA TONDOK LEPONGAN BULAN,BINTINMI GONTING BABANGANNA TANA MATARI' ALLO"(pintu TanaToraja telah tertutup dari gangguan orang luar).
Sejak berakhirnya peperangan muncullah seorang bangsawan dari perbatasan Tana Toraja yang bernama Puang Kabere',ia pun mengadakan hubungan dengan kedua daerah tersebut untuk mempertemukan pendapat,dan membuat perdamaian hubungan antara Tana Toraja dan Bugis(Bone,Sidenreng).pertemuan untuk mengadakan perjanjian tersebut diadkan di Malua' sehingga pertemuan ini disebut "BASSE MALUA'',Dimana bugis diwakili oleh utusan Raja-Raja Bone dan Arung-Arung dari Sidenreng,Dan toraja juga diwakili oleh pemimpin TopadaTindo.
Sejak itu hubungan kedua daerah pulih.Padaawal abad ke-18 pedagang dari bugis kembali masuk ke dalam toraja dan bangsawan Toraja belajar banyak tentang senjata api yang telah ada di bugis.Pada saat senjata api telah banyak dimiliki oleh para bangsawan terjadi perang saudara dan penjualan budak dari yang kuatu ditukar dengan senjata api(system Barter).Perang terjadi dimana-mana yang membuat bangsawan Toraja bersekutu dengan pemimpin Bugis sekaligus mengadakan penyewaan tentara dan senjata untuk melawan sesama bangsawan Toraja.Datanganya para ahli perang dari bugis di Tana Toraja atas undangan bangsawan Toraja yang dikena dengan "Ande-Ande Guru di Toraja.seorang panglima perang dari bugis yang sangat terkenal yang bernama Petta Punggawae,disamping seorang dari sidenreng yang bernama Wa' Situru' yang sangat lama tinggal di Toraja,dan oleh sekutunya diberi gelar "Andi Guru".Kedatangan pemimpin perang bugis di Toraja tersebut adalah dalam rangka perang kopi di Toraja sekita tahun 1889-1890,Yaitu perang terbuka antara pedagang dari bugis-sidenreng dan sawitto melawan pedagang dari Luwu dimana masing-masing bersekutu dengan bangsawan di Toraja.Setelah perang kopi berakhir tanpa ada yang dinyatakan kalah,sebagian Ande Guru kembali termasuk Petta Pungawae dan ada yang tinggal mengikuti perang saudara termasuk Wa'Situru' bahkan ada yang menikah dengan bangsawan Toraja .Perang saudara yang tiada henti-hentinya ini berlangsung sampai masuknya tentara kolonial belanda pada tahun 1906 dan bermarkas di rantepao pada bulan maret 1906.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar